Indramayu, Radius102.com – Sudah seminggu air dari PDAM atau Perumdam Tirta Darma Ayu (TDA) Kabupaten Indramayu tidak ngocor.
Sejak Lebaran Idul Fitri, warga Desa Panyindangan Kulon, Kecamatan Sindang, mengeluhkan dan protes keras tidak ngocornya air di wilayah tersebut.
Keluhan ini viral di media sosial dan warga pun (pelanggan) mengancam tidak akan bayar tagihan bulanan air, dan mengajak warga lain untuk boikot bayar bulanan.
“Bulan ini bayaran sampai 200 ribu, padahal air enggak ngucur selama seminggu. Saya enggak mau bayar sebelum air PDAM dibersihkan dan ngocor kembali. Saya ini kelaparan air bersih seminggu,” ujar salah satu warga Panyindangan Kulon, Titin (43) dalam unggahan videonya yang diposting di medsos X, termasuk beredar luas ke grup WhatsApp wartawan, Kamis (26/3).
Menurutnya, aliran air PDAM bulan Maret 2026 di Blok Pecuk praktis tidak ngocor sama sekali. Sebagai bentuk protes itu, dirinya enggak mau bayar tagihan air.
Warga lainnya,Tini (55) mengeluhkan kondisi air PDAM yang terkadang tidak ngocor. Sebentar ngocor, tidak lama berselang, kondisi serupa muncul lagi.
“Sudah hampir seminggu, sejak awal-awal Lebaran air PDAM lagi-lagi ngadat dan di rumahnya air tidak ngocor.”
Meski terkadang air PDAM mengalir, namun intensitasnya sangat kecil. Itupun, kadang-kadang, tidak setiap hari. Bisa dihitung mengalir kecil sekali dalam waktu lima hari ini.
Dengan kembali tidak mengalirnya air PDAM di rumahnya, jelas sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi, kalau malam mau ke kamar kecil, rasanya benar-benar tidak nyaman karena tidak ada air.
Supratini mensinyalir, ada ketidakberesan dalam saluran air PDAM di desanya. Dia juga khawatir, aliran air yang sempat ngocor beberapa waktu lalu, hanya karena ramai muncul di medsos dan pemberitaan media. Terbukti, saat ini lagi-lagi tidak mengalir.
“Seperti hanya menenangkan warga saja, karena ramai di medsos dan berita,” ucapnya.
Warga lainnya, Rohman (40) dan Nana (62) mengatakan, dirinya sangat direpotkan dengan tidak mengalirnya air PDAM. Pasalnya, semua aktivitas kesehariannya selalu berhubungan dengan air.
“Sekarang kalau di rumah sudah tidak ada air, bikin repot juga,” ungkapnya.
Dia berharap PDAM Cabang Sindang segera menindaklanjuti dengan perbaikan sesungguhnya, agar airnya kembali lagi normal seperti sediakala. Jangan karena alasan yang berulang akibat kelangkaan air baku atau air baku kotor menjadi alasan, tapi tanpa solusi.
“Bukan hanya saya, tapi yang saya tahu satu blok ini semuanya tidak mengalir air PDAM. Kalau blok lain nggak tahu ya,” keluhnya.
Manajer Cabang Sindang Perumdam TDA, Lina Aryani, yang dihubungi awak media ini bungkam. Saat dikonfirmasi, Kamis (26/3) lewat WhatsApp-nya tidak merespons.
Alih-alih memberikan kepastian terkait langkah perbaikan, pihak perusahaan melalui akun Instagram resminya @perumdamtda_indramayu hanya mengeluarkan imbauan kepada pelanggan untuk menampung air dan menggunakannya secara bijak.
Imbauan tersebut dinilai tidak relevan dengan kondisi di lapangan. Pasalnya, banyak pelanggan menyebut air tidak mengalir, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan penampungan seperti yang dianjurkan.
Informasi yang terakses Radius102.com menyebutkan, tingkat kekeruhan air baku dari sungai Cimanuk tinggi. Proses produksi hanya dapat 40 persen, sisanya lumpur sehingga menyebabkan air keruh dan tidak ngocor. Berbeda dengan Cirebon dan Kuningan yang sumber airnya dari mata air Gunung Ciremai di Kuningan.
(MHR)



0 comments:
Posting Komentar