Cirebon, 05 Februari 2025 - Ikatan Mahasiswa Cirebon Indonesia (IMCI) memperkenalkan diri sebagai konsorsium putra putri Cirebon yang berkuliah di berbagai kampus, baik di wilayah Cirebon maupun di luar daerah, sekaligus ruang berhimpun lulusan diaspora yang memilih tetap pulang membawa kontribusi. IMCI berdiri sejak tahun 2023 untuk satu tujuan besar: menjadikan capaian akademik, jejaring perantauan, serta pengalaman organisasi sebagai daya guna sosial yang kembali menguatkan daerah.
Sejak awal, IMCI lahir bukan dari ambisi membentuk organisasi baru, melainkan dari kebutuhan yang sudah lama terasa namun jarang diakui secara jujur. Di satu sisi, Cirebon melahirkan banyak putra putri yang hebat, berprestasi, dan teruji di ruang akademik maupun ruang organisasi. Mereka tersebar di berbagai kampus dan ruang profesional, membawa ilmu, jaringan, serta daya saing yang tidak kecil. Di sisi lain, energi itu kerap berjalan sendiri sendiri. Ketika pulang, tidak selalu tersedia “jalur” yang rapi untuk mengubah prestasi menjadi kontribusi. Di titik itulah IMCI dibangun: bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan tempat merapikan arah.
IMCI memaknai mahasiswa sebagai amanah peradaban. Mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi harus hadir sebagai penjaga nurani publik: menjaga nalar, menjaga etika, dan menjaga keberpihakan pada kepentingan rakyat. Karena itu, IMCI tidak menempatkan dirinya sebagai organisasi yang “mencari aman” atau “sekadar ramah kekuasaan”. IMCI menempatkan dirinya sebagai titik temu yang menghubungkan dua hal sekaligus: mahasiswa Cirebon yang kuliah di luar daerah dan mahasiswa yang kuliah di Cirebon; serta aspirasi warga dengan ruang kebijakan yang sering kali terasa jauh, rumit, dan tidak ramah. Di sanalah fungsi konsorsium bekerja: menyatukan yang tersebar, menguatkan yang lemah, dan merapikan yang berantakan.
IMCI lahir dari kegelisahan yang berulang dan tidak boleh terus dinormalisasi. Banyak mahasiswa Cirebon telah ditempa ilmu dan jejaring, tetapi ketika kembali, sering tidak menemukan kanal kontribusi yang terstruktur. Pada saat yang sama, organisasi organisasi mahasiswa daerah di berbagai kampus membutuhkan penghubung yang mampu menyatukan lintas agenda dan merapikan kerja kolektif. Dari kebutuhan itu, IMCI hadir sebagai jembatan kerja, bukan simbol pertemuan. IMCI tidak dibangun untuk menjadi wadah seremonial, melainkan wadah yang memampukan: mempertemukan, mengonsolidasikan, lalu menggerakkan.
Dalam relasi dengan pemerintah daerah, IMCI memandang kekuasaan sebagai mandat publik, bukan panggung untuk merasa paling benar. Karena itu, IMCI menegaskan posisi sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis. Kritis agar kebijakan tidak kehilangan hati nurani sosial, strategis agar koreksi tidak berhenti pada wacana, melainkan berujung pada rekomendasi yang bisa diuji, dikawal, dan ditindaklanjuti. IMCI tidak dibangun untuk menjadi ornamen demokrasi, dan tidak akan menukar idealisme dengan kedekatan. IMCI menghormati institusi, namun tidak memuja jabatan. IMCI mendukung program yang berpihak dan rasional, serta tegas pada kebijakan yang merugikan rakyat, menutup partisipasi, atau menjadikan prosedur sebagai tameng bagi kelambanan dan ketidakadilan. Tegas, namun tetap bermartabat.
Komitmen IMCI terang dan sederhana: Bahu membahu membangun Cirebon. Komitmen ini bukan slogan, melainkan etika kerja. IMCI mengonsolidasikan aspirasi mahasiswa dan warga, memperkuat kapasitas kader, serta mengawal isu sosial dan kebijakan daerah melalui forum dialog, kajian, advokasi, dan kerja kolaboratif yang rapi. IMCI menempatkan integritas sebagai garis batas. IMCI tidak mengejar panggung, melainkan memastikan setiap keputusan publik layak dipertanggungjawabkan, setiap program pembangunan dapat diawasi manfaatnya, dan setiap suara warga tidak dipatahkan oleh birokrasi yang lupa fungsi.
Sejalan dengan judul “dari kampus ke pengabdian daerah”, IMCI membangun jalur kontribusi yang menyeberangkan ilmu ke kebutuhan nyata. Ini bukan romantisme pengabdian, melainkan desain gerak yang disiplin. IMCI ingin Cirebon tumbuh bukan hanya karena anggaran, tetapi karena keberanian memperbaiki diri, kedewasaan berdemokrasi, dan kemauan untuk mendengar rakyat. Maka IMCI mengundang partisipasi aktif mahasiswa, alumni, relawan, dan jejaring profesional untuk bergerak dalam disiplin organisasi, tertib administrasi, dan tertib etik.
Ketua Umum IMCI menegaskan, “IMCI lahir untuk menjaga marwah mahasiswa dan martabat daerah. Kami membuka ruang bagi semua putra putri Cirebon yang ingin bekerja sungguh sungguh, bukan sekadar bersuara. Kami akan menjadi penghubung yang merapikan aspirasi, sekaligus penjaga nalar kebijakan. Pemerintah yang kuat tidak takut diawasi, karena pengawasan adalah cara paling sehat menjaga kepercayaan publik.”
IMCI mengajak seluruh mahasiswa Cirebon untuk bergabung dan menjadikan organisasi ini sebagai rumah untuk belajar, berjejaring, berdisiplin, dan berkontribusi. IMCI juga mengajak pemerintah daerah untuk melihat mahasiswa bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai energi sosial yang menjaga arah pembangunan tetap beradab.
(Agus Hermawan)