Rokan Hulu-Sontang Bonai Darussalam.
Media Radius 102 Com.
Nilai sejarah dan prasejarah kembali disorot sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter kepemimpinan. Hal ini disampaikan oleh *Zulfahrianto, S.E.* dalam sebuah forum diskusi yang membahas peran kearifan masa lalu bagi pemimpin masa kini.
Mengenang kembali betapa besarnya peran dermaga dalam menghubungkan desa desa kita yang terisolasi.Ini adalah pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga,merawat dan memperjuangkan pembangunan dermaga di pelosok desa demi masa depan.
Menurut Zulfahrianto, S.E., prasejarah bukan sekadar catatan tentang masa lampau, melainkan cermin dan wadah kearifan yang tidak boleh dilupakan. “Prasejarah adalah salah satu wadah kearifan seorang pemimpin yang mulia. Di sanalah kita belajar tentang perjuangan, kesederhanaan, keberanian, dan cara manusia terdahulu bertahan hidup dengan gotong royong,” ujarnya.
Beliau menekankan bahwa pemimpin yang mulia adalah pemimpin yang memahami akar peradabannya. Dengan memahami prasejarah, seorang pemimpin akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, lebih menghargai proses, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan.
“Seorang pemimpin tanpa pemahaman sejarah dan prasejarah ibarat kapal tanpa kompas. Ia bisa berjalan, tapi kehilangan arah. Karena itu, nilai-nilai dari masa prasejarah harus terus kita hidupkan agar lahir pemimpin-pemimpin yang berkarakter, jujur, dan mengabdi untuk rakyat,”Ungkap Zulfahrianto, S.E.
Para peserta forum menyambut positif pandangan tersebut. Diskusi ini diharapkan menjadi pengingat bagi generasi sekarang, khususnya para calon pemimpin, bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat kita melupakan akar dan jati diri bangsa.
Zulfahrianto, S.E. menutup penyampaiannya dengan pesan: “Jangan lupakan prasejarah. Karena dari sanalah kearifan seorang pemimpin yang mulia mulai ditempa. Dan itu akan selalu tak terlupakan sepanjang masa.”
Jurnalis : Radius 192 Com Rohul.
( Ismail Marpaung ).



0 comments:
Posting Komentar